ini cerita tentang kisah gue, yang kalau diinget nanti pasti jadi lucu. tapi buat saat ini hal tersebut menjadi sangat menyebalkan sekali.
sebal plus bingung gue harus gimana.
kalau orang denger tentang ini pasti cuma akan geleng-geleng kepala, karena yang kami perkarakan adalah hanya sepeser uang.
dari awal, emang gue sedikit ragu sama orang tersebut, kita sebut aja namanya dengan Nona A. dia selalu cerita tentang kemewahan hidupnya dan bagaimana gaya hidupnya yang layaknya orang kaya. gue dan temen gue yang senasib cuma bisa manggut manggut kalau dia sedang menceritakan cerita panjangnya ke kita. dia adik kelas gue, kalau gak salah dua tahun di bawah gue,, tapi entah kenapa sepertinya dia lebih berani ketimbang gue. oke kembali ke gaya hidup Nona A, cerita yang biasanya ia jajakan tiap harinya membuat kami berpikir kalau ia merupakan anak kaya yang hanya numpang kerja dan numpang buang waktu di tempat bekerja gue dan temen-temen gue.
tapi entah kenapa, dari awal gue gak terlalu suka sama dia. pertama dia cerita, oke. tapi kedua dan seterusnya gue anggep dia terlalu pamer.
dan, gak tau semenjak kapan. gue mulai ragu sama omongan omongannya.
berlanjut ke kasus saat ini,
tiba-tiba gue dan temen gue kehilangan kontaknya yang seharusnya dia bisa dihubungi untuk ditanyai masalah transfer gajih kita yang gak seberapa itu. tapi suer, ini bener-bener mencurigakan. gimana enggak. tiba-tiba dia ngehilang, dan gak ada kabar. gue dengan temen gue ini akhirnya heboh lah nyariin dia, karena berhubung ada perlu juga dengan uang yang akan ditransfer ini.
setelah dua hari kita suudzon dan nebak yang enggak enggak, dia muncul. ngasih kabar kalau hapenya rusak dan ga bisa hubungi gue.
disitu gue mikir, oooh...hape rusak toh?
malu lah gue, heboh gara-gara transferan itu.
dan intinya, gue ambil pelajaran dari kejadian dua hari ini. suudzon, dibalut apapun itu, pastinya akan merugikan, baik bagi orang yang dituju atau orang yang menaruh curiga.
terlepas dari omongannya tentang hidupnya, atau perasaan gue yang masih janggal sama alasan haenya rusak. gue harus buang jauh-jauh pikiran buruk di otak. dan belajar buat bersikap husnudzon (berprasangka baik).
By the way. walaupun gue agak sentimen sama Nona A ini, makasih karena dia udah ngasih pelajaran berharga buat gak berprasangka buruk sama orang, dan belajar untuk meminta maaf karena kesalahan yang gue buat.
Ya Allah jangan lepaskan kami dari rahmat-Mu, dan jangan lepaskan kami dari petunjuk-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Dzat yang maha sempurna.
7.23.2014
6.07.2014
Percaya
Dan, akhir-akhir ini sering kali saya melihat pola-pola pikiran mahasiswa yang sangat kebingungan. termasuk juga saya. kalau ditanya mengapa?
saya tidak begitu tahu jawaban dari mahasiswa lainnya, yang punya cerita dan rasa yang sama. namun jika pertanyaan itu ditanyakan pada saya, maka sebenarnya saya sudah sangat mengetahui jawabannya.
karena sebenarnya, saya bingung karena saya tidak tahu, saya tidak tahu karena saya tidak membaca dan mencari tahu, saya tidak membaca karena saya malas, dan saya malas salah satu faktornya juga adalah dengan percaya diri akan pertanggung jawaban atas sesuatu yang saya pikirkan.
pemikiran ini saya dapatkan saat di tengah proses pembelajaran. saya sadar kesalahan saya, namun sulit untuk bisa memperbaikinya.
heuh...menit ini saya makin bingung. kami takut, takut untuk menjadi rajin, takut untuk menjadi berbeda. takut untuk menjawab pertanyaan, karena kami takut salah.
dan, kami juga takut percaya, percaya dengan pendirian kami.
saya tidak begitu tahu jawaban dari mahasiswa lainnya, yang punya cerita dan rasa yang sama. namun jika pertanyaan itu ditanyakan pada saya, maka sebenarnya saya sudah sangat mengetahui jawabannya.
karena sebenarnya, saya bingung karena saya tidak tahu, saya tidak tahu karena saya tidak membaca dan mencari tahu, saya tidak membaca karena saya malas, dan saya malas salah satu faktornya juga adalah dengan percaya diri akan pertanggung jawaban atas sesuatu yang saya pikirkan.
pemikiran ini saya dapatkan saat di tengah proses pembelajaran. saya sadar kesalahan saya, namun sulit untuk bisa memperbaikinya.
heuh...menit ini saya makin bingung. kami takut, takut untuk menjadi rajin, takut untuk menjadi berbeda. takut untuk menjawab pertanyaan, karena kami takut salah.
dan, kami juga takut percaya, percaya dengan pendirian kami.
5.25.2014
"UNIK"
Semua individu itu dilahirkan unik, berbeda satu sama lain. Gak akan ada yang persis sama, bahkan sekalipun jika mereka saudara kembar. Unik itu suatu anugerah, hal yang harus disyukuri, dipandang sebagai ciri bukan sebagai kekurangan yang menghasilkan celah untuk mencela.
Pola pikir, imajinasi, perilaku dan segala hal yang ada dalam diri seseorang merupakan hal yang dimaklumi keadaannya, karena semua tak akan berjalan sesuai dengan aturan dan standar yang ada. Akan ada kelompok kecil ataupun serempak yang menjauh dari garis sistem tersebut dan kemudian membentuk garis yang dapat dikatakan "UNIK"
Permasalahannya bukanlah pada sisi unik itu sendiri, namun bagaimana kita dapat menerima keunikan tersebut sebagai sesuatu, bukan kekurangan ataupun keburukan.
Itulah mengapa manusia harus sering-sering belajar banyak hal. Karena terkadang hal sepele seperti ini saja sangat sulit untuk diaplikasikan ke dalam selipan-selipan cerita kehidupan.
3.26.2014
Sahabatku, Alam dan Bencana
Video keadaan Kota Serambi Mekkah,
Aceh sesaat setelah diporanda-porandakan oleh terjangan dahsyat tsunami selalu sukses
membuat saya menangis membayangkan, bagaimana jika saya adalah salah satu orang
yang mengalami dan berada di sana? Mungkin terdengar agak melankolis, karena tsunami
ternyata sudah berlalu lumayan lama. Namun, ingatan akan bagaimana bencana
tersebut membuat Aceh menangis, bahkan indonesia menangis masih sangat terbekas
di ingatan. Melihat bagaimana anak-anak yang menangis di tinggal orang tuanya,
istri yang ditinggal suaminya, dan banyak orang kehilangan harta benda, mereka
terpisah dan mereka tak tahu apa yang harus dilakukan. Walaupun Indonesia ini
sudah sering menghadapi berbagai bencana, namun dalam setiap bencana yang
datang terdapat cerita pilu di sana, dan tsunami di Aceh, menurut saya adalah
bencana yang paling memilukan.
![]() |
| sumber:www.soloblitz.co.id |
Indonesia mengagumkan, semua pun tahu
itu. Gunung-gunung menjulang tinggi, indah, dan selalu menjadi wisata favorit
banyak orang. Laut biru nan luas menyimpan berjuta kekayaan dan pesonanya, dan
masih banyak lagi yang bisa membuat kita tak berhenti berdecak kagum akan
ciptaan Tuhan di tanah negeri kita ini. Namun, di samping semua itu, Indonesia
tak pernah lepas dari lingkaran bencana, seperti gunung berapi yang semula
mengagumkan bisa saja tiba-tiba menjadi menakutkan dengan tumpahan lava
panasnya. Laut yang tenang, tiba-tiba saja bisa menjadi mengerikan dengan
terjangan tsunaminya.
Apakah Tuhan marah? Pertanyaan itu yang sering dikaitkan dengan berbagai bencana yang datang. Dan yang sering saya dengar juga dari banyak orang tua, mereka bilang, “Mungkin bumi kita ini sudah tua, sudah terlalu lelah untuk menopang manusia-manusia di atasnya. Jadi mereka mengeluarkan bencana yang tidak ada habisnya”. Apa iya? Setiap pendapat mungkin saja benar, terlepas dari anggapan tersebut, jika dilihat dari geografisnya Indonesia berada pada dua lempengan tektonik dunia sehingga sangat rawan terhadap bencana seperti gempa bumi yang disusul tsunami, letusan gunung berapi serta longsor dan bencana alam lainnya.
Lalu, apa yang harus kita lakukan?
Jawabannya sudah pasti adalah berdoa pada Yang Maha Kuasa, karena apapun yang
terjadi di muka bumi ini atas kehendak-Nya. Tidak hanya itu, kita juga harus
mencoba mengakrabkan diri dengan bencana. Kenali mereka, dan bersahabat dengan
mereka. Loh, kenapa? Karena itulah salah satu jalan untuk bertahan. Kita ambil
contoh, negara Jepang yang sangat sering mengalami gempa bumi, mereka sudah
sangat akrab dan mempelajari apa yang harus dilakukan jika gempa bumi terjadi.
Cara bagaimana menyelamatkan diri, juga rumah-rumah yang didesain untuk tahan
terhadap gempa. Kita pun harus seperti mereka, pemerintah sudah mulai untuk
membuat program tanggap akan bencana. Tinggal kita saja yang harus mendukung
program-program tersebut.
Tau gak sih? Indonesia saat ini sudah
mempunyai Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Penanggulangan
Bencana Daerah di tingkat provinsi dan Kabupaten/Kota, juga sudah tersusunnya
Rencana nasional Penanggulangan Bencana (210-2014) dan Rencana Aksi Nasional
Pengurangan Risiko Bencana (2010-2012). Gak hanya dalam penanggualangannya
saja, untuk pencegahannya pun sudah dibangun Sistem peringatan dini untuk
berbagai ancaman, seperti sistem peringatan dini tsunami (INATEWS), gunung
meletus, banjir, dan tanah longsor. Semoga dengan sistem peringatan dini ini
bisa mengurangi jumlah korban jiwa dalam bencana yang datang. Amin....
Gak hanya dalam lingkup Nasional,
Indonesia juga berpartisipasi dalam kampanye global “One millon safe school and hospital” , yaitu sejumlah 13.500
sekolah dan 133 rumah sakit di Indonesia menjadi sekolah dan rumah sakit yang
aman dari bencana. Indonesia juga sebagai laboratorium untuk penaggulangan
bencana telah menjadi referensi bagi negara lain, delegasi dari negara lain
datang untuk belajar mengenai kemajuan/ capaian Indonesia dalam penanggulangan
bencana. Wah...negara lain saja datang ke Indonesia untuk belajar
penanggulangan bencana, kita sebagai warga negara Indonesia juga jangan mau
kalah untuk mempelajarinya.
Di tengah
bencana yang ada, satu lagi yang bisa buat kita bangga, yaitu Indonesia
mendapat apresiasi dunia yang diwujudkan dalam bentuk penghargaan Global Champion for Disaster Risk Reduction
(DRR) dari Sekretaris Jendeal PBB Ban Ki-Moon. Presiden SBY adalah tokoh
pertama di dunia yang dianugerahi Global
Champion oleh PBB dalam rangka Pengurangan Resiko Bencana (PBR) sebagai
priorias nasional pasca terjadinya tsunami yang melanda Asia pada 26 Desember
2004.
Ternyata benar selain kita harus
berdoa untuk keselamatan bersama, kita juga harus mencoba bersahabat dengan
bencana. Jangan hanya mengeluh tanpa berusaha, dan hanya diam menunggu apa yang
akan terjadi dan apa yang akan alam lakukan pada kita. Namun, hal yang juga tak
kalah penting untuk diingat adalah, bencana tak hanya datang dari alam,
terkadang kitapun bisa menjadi pemicunya, jadi apa salahnya jika selain kita
mencoba mengenal bencana, kitapun mencoba bersahabat dan baik terhadap alam.
Punya banyak sahabat, akan lebih baik bukan?
3.18.2014
Batas
3.17.2014
Ikanpun bisa Go Internasional
![]() |
| Sumber: inspirasibangsa.com |
Laut, jika dengar kata laut banyak
yang akan terbayangkan di pikiran kita. Mulai dari keindahan pantainya, wisata
bawah lautnya, sampai kekayaan yang ada di dalamnya. Kalau saya sih...pasti
akan langsung terbayang makanan. Loh, kenapa?
Karena laut menyimpan berjuta makanan. Masih belum bisa
menebak juga makanan apa? Biar saya kasih tahu. Berjuta-juta macam ikan yang
ada di laut itu pastinya sudah akrab di lidah kita kan.., juga udang, dan
banyak lagi seafood lainnya yang bisa
buat perut kita merasa lapar seketika.
Saya jadi teringat
dengan salah satu pantai favorit saya. Pantai itu menjadi favorit bukan karena keindahannya.
Karena sepertinya pantai itu tidak terlalu diurus oleh pemerintah setempat,
jadi jika bicara indah pasti akan jauh dengan pantai-pantai wisata lainnya,
Pantai Kuta misalnya. Pantai tersebut berada di wilayah pantura, dan setiap
saya datang ke pantai itu saya langsung merasa lapar. Hasrat saya memaksa untuk
segera memesan ikan bakar, juga cumi bakar, ditambah dengan es kelapa hijau
yang segar. Nyam nyam nyam... itulah
kenapa saya cinta sekali dengan pantai ini.
Pernah sesekali di tengah suapan terakhir saya memakan ikan
bakar, terlintas pikiran bahwa Indonesia itu kaya sekali ya. Semuanya lengkap
disini, terutama kekayaan lautnya. Buktinya Indonesia dikenal sebagai negara
maritim di dunia, yang memiliki 17.508 pulau dengan garis pantai sepanjang
81.000 km sehingga menjadikan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di
dunia. Wah... pantai sepanjang itu, pasti banyak sekali tempat-tempat makan yang
menyediakan seafood seperti tempat favorit
saya ini.
Laut yang sangat luas dengan kekayaan laut yang melimpah. Nikmat
yang sungguh tidak bisa kita abaikan begitu saja. Untungnya, pemerintahan di
masa Pemerintah Presiden SBY ini, potensi kelautan dan perikanan terus
dikembangkan dengan leading sektor
Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dan ternyata hasilnya sangat memuaskan
loh...peningkatan produksi ikan meningkat 100% lebih, dari sebelumnya pada
tahun 2004 mencapai 6,1 juta ton menjadi 15,26 juta ton pada tahun 2012.
Jika saya bersenang-senang ria memakan ikan hasil tangkapan nelayan
Indonesia, pikiran saya mulai jahil
bertanya apakah ikan yang dimakan Taylor
Swift di sana juga hasil tangkapan nelayan Indonesia? Dan jawabannya bisa jadi
saya dan Taylor Swift makan ikan yang asalnya sama. Karena ternyata pada
periode 2004-2013, pertumbuhan nilai ekspor perikanan rata-rata tumbuh 3,9
persen. Peningkatan nilai ekspor ini juga tidak lepas dari peran KKP untuk
menambah nilai pengolahan ikan (add value).
Berbagai jenis komoditi ikan yang menjadi unggulan antara lain udang, tuna,
cakalang, tongkol dan ikan hias.
Selain itu, ikan indonesia dipasarkan di 20 negara yang
diantaranya adalah Amerika Serikat. So,
mungkin saja para artis Hollywood itu
memakan ikan hasil kekayaan laut Indonesia. Wah..ikan Indonesia ternyata sudah Go
Internasional loh...
2.12.2014
Cerpen
Aku Mencintai Kau
Budayaku, karena Indonesiaku.
Pagi itu, semua orang di
dalam kelas terlihat tegang. Mungkin sedikit pucat, atau malah di ujung sana
sudah ada yang berkeringat. Satu persatu kelompok sudah maju, melewati titik
waktu yang seakan tak kunjung juga usai. Kami merasakan sama, takut dan tegang.
Ah, aku salah... ternyata
di pinggir sana, ku lihat ada salah satu, atau dua, atau malah banyak yang
sedang berpikir keras untuk mencuri perhatian dari dosen di depan kami. Ah... dan
aku salah lagi, ku tengok ke belakang ternyata sedang ada yang mencoret-coret
kertasnya dengan gambar abstrak, mencoba menghasilkan sebuah karya di tengah
jalannya kuliah ini, dan di sebelahnya malah ku lihat ada yang terkantuk sambil
berlagak membaca buku. Mungkin hanya akulah satu-satunya orang yang merasa tegang.
Kini giliran aku dan
kawan-kawan maju untuk mempresentasikan tugas kami. Tradisi yang akan selalu
ada dalam langkah menuju presentasi adalah jantung yang berdetak semakin
kencang dan suhu terasa semakin dingin. Membuat tingkahku yang semula biasa,
menjadi salah tingkah. Selain karena dosen di depan itu, aku tak terlalu kenal
dengan teman sekelas kali ini, jadi rasanya malu jika nanti salah jawab, lalu
ia memarahiku di depan mereka. Gengsi.
Presentasi dimulai dengan
sambutan baik dari dosen kami, awal sampai akhir presentasi berjalan dengan
lancar. Aku menjelaskan bak seorang pakar yang sudah mengerti benar mengenai
permasalahan yang sedang dibahas, meskipun nervous
tak bisa disembunyikan. Namun kata “gengsi” yang sempat terbesit dalam
pikiranku, menghilang seketika berganti takut. Takut jikalau salah dalam
menjawab pertanyaan yang diajukan teman-teman lainnya. Benar saja, tak lama
berselang aku salah dalam menjawab. Dosen kami mempermasalahkan mengenai
hegemoni budaya. Ia lalu menjelaskan mengenai arti dari hegemoni budaya itu,
dan sejurus kemudian mengajukan pertanyaan padaku,
“ Sekarang, kamu berasal
dari mana?” ia bertanya serius padaku. Celakanya setiap pertanyaan seperti itu
dilayangkan, aku tak pernah bisa menjawab. Aku bingung, tak tau asalku dari
mana. Aku bingung, apakah kata “asal” yang ditanyakan itu adalah tempat lahirku, atau malah tempat
tinggalku, atau kampung asal orang tuaku? Pertanyaan seperti itu sudah sukses
berkali-kali membuatku menjadi orang bodoh.
“Orang Indonesia bu”.
Kurangkum semua provinsi yang ada di otakku menjadi sebuah negara, yaitu
Indonesia. Menurutku itu adalah jawaban yang paling aman. Tapi aku salah.
“Saya tau kamu orang
Indonesia, memang mau orang mana!”. Teman sekelas jadi tertawa karena omongan
Bu Dosen barusan, karena iapun sedikit tetawa. Aku juga ikut tertawa, mencoba
mencairkan suasana.
“Jangan ketawa kamu! Ini
gak lucu! Asal daerah kamu darimana?” Bukannya mencair, suasana malah tambah
membeku.
“Indrama...eh, Tangerang
bu..” aku menjawab dengan nada ragu-ragu.
“Iya, tangerang itu dari
mana?” nadanya semakin tegas. Nah loh, memangnya dari mana? Pikirku.
“Tangerang itu provinsi
mana?” ia bertanya lagi.
“Banten bu,” Aku langsung
menjawab. Jangan-jangan ia berpikir bahwa aku tak mengerti geografi.
“Apa khas dari Banten?”
haduh...aku semakin bingung. Aku tak pernah tahu dan tak mau mencari tahu
mengenai Banten. Walaupun sudah 19 tahun aku hidup disana. Aku hanya bisa
terdiam.
“Apa khas dari Banten?”
ia semakin mendesakku.
“emmmm, saya kurang tahu
bu.” mengakui apa sebenarnya yang ada dalam pikiranku ini.
“Kamu ini gimana! Kamu
menjelaskan hegemoni budaya, mencontohkan bagaimana orang-orang Indonesia sudah
mulai terpengaruh oleh budaya K-pop Korea dan meninggalkan budayanya sendiri. Tapi
kamu malah mempraktikkannya, ga punya jati diri. Kamu itu sebenarnya pantas
dapat julukan orang galau, gak punya jati diri.”
Jlebbbb... kata-katanya
barusan seperti menusuk perutku, desiran suhu dingin itu makin terasa dalam
tubuh. Entah menahan marah atau malah malu. Karena jujur aku malu, ga punya
jati diri.
****
Dan waktu yang seakan
lama itu pun berlalu. Benar jika ada yang menulis lirik lagu bahwa “badai pasti
berlalu”, bagaimanapun aku diterjang oleh badai itu pasti suatu saat akan
berhenti. Meski sesudahnya, mungkin aku sudah tak utuh lagi. Tapi badai kali
ini adalah badai yang hanya datang mengejutkan, aku hanya perlu menahan malu
sesaat. Ku pikir, toh sudah banyak
juga teman-teman di kelas yang dipermalukan sepertiku. Jadi ga hanya aku
sendiri yang harus diterpa badai bergilir ini. Aku tertawa sendiri, geli,
memikirkan omelan tersebut.
“heh...ngelamun aja.
Mikirin apaan?” sifa teman sekelasku membuyarkan khayalan seputar badai.
“Dia lagi mengalami masa
trauma tau mba.., udah biarin aja dulu. Efek dari omelan bu dosen itu kan dua
jam setelahnya pasti buat orang jadi ngelamun terus, atau kalau udah akut malah
bisa senyum-senyum sendiri kayak dia. Tapi entar juga ilang sendiri, kalau
mentalnya udah kuat lagi.hahahaha”. anna temanku juga malah nimbrung
ikut-ikutan.
“Hahaha...efeknya bisa
jadi serem banget na”. Eka yang juga temanku terlihat sangat terhibur dengan
banyolan anna barusan. Aku cuma bisa manyun, pasrah diledek oleh mereka.
“Udah ri...udah, Nanti
kita bantu cari jati dirimu ya.hehehe”. Sifa malah ikutan meledek juga
sekarang.
“Hahaha, gak punya jati
diri. Lucu juga kalau dibuat tweet”.
Aku mencoba menghibur diri sendiri, berusaha untuk menjadi orang yang legowo, tidak terlalu serius dengan
semuanya, termasuk hal ini.
****
Badai hari kemarin itu
sudah sepenuhnya berlalu. Aku sudah tak peduli lagi dengan ungkapan gak punya
jati diri itu. Masa bodo dengan jati diri atau semacamnya. Yang aku tahu, aku
adalah orang Indonesia dan mahasiswa Gunadarma. Itu cukup kan jika dijadikan
sebuah identitas?
Ah...ya sudahlah. Cukup
mengenai jati diri itu. Gak usah terlalu dipikirkan, dan jangan menjadi beban.
Sekarang ya sekarang, yang kemarin itu cuma sebuah selingan. Anggap jadi
latihan penguat mental. Dan aku kembali tersenyum, kembali fokus pada kuliah
pak dosen di depan kelas yang sangat ku kagumi itu.
“lalu, bagaimana jika
bangsa kita terus menerus seperti ini? Mudah terpengaruh, terus mengikuti
perilaku budaya bangsa lain. Padahal budaya Indonesia itu kan banyak sekali,
kenapa gak pilih salah satu diantara banyaknya budaya untuk dijadikan pegangan.
Untuk dijadikan contoh. Jadikan ciri khas budaya yang kalian pegang menjadi
kaya akan keunikan, sehingga orang akan menaruh perhatian, lalu bisa saja
mereka suka dan mengikuti, sekali-kali dong kita harus jadi trendsetter, jangan jadi pengikut melulu.
Layaknya kalian ini yang tengah mengikuti budaya korea, menari-nari ala boyband
dan girlband itu. Iya toh? Angkat tangan disini yang suka joged-joged sendiri
di kamarnya meniru artis korea?” pak dosen itu selalu mengangkat hal-hal
menarik untuk dijadikan bahan kuliah di kelas, terbukti, Seketika kelas
langsung ramai, saling tunjuk dan tertawa. Menunjuk teman sekamar mereka yang
memang punya kebiasaan menari- nari ala boyband atau girlband korea, bahkan
sudah ada yang diupload ke Youtube.
“Oke, oke..., sekarang
ayo kita mengucap janji” pak dosen langsung mengambil alih kelas, setelah membiarkannya
sementara untuk ramai. Teman-teman langsung diam, dan teralih perhatiannya.
“ Ucapkan bersama setelah
saya ya..!” ia mengambil nafas sejenak sambil menutup matanya. Terkadang Pak
Dosen ini juga kerap berlebihan.hehehe
“ saya, pemuda pemudi
Indonesia” pak dosen mengucapkannya dengan suara keras.
“saya, pemuda pemudi
Indonesia”. Dan semua teman-teman sekelas mengikutinya juga dengan suara keras.
“Akan membawa Indonesia
kemanapun saya berada, akan menaruh Indonesia terus di hati saya, dan akan
membuat Indonesia indah pada setiap orang yang melihatnya. Indonesiaku
cintaku”. Kali ini ada semacam desiran hangat di hatiku saat mendengar janji
yang diucapkan dosen itu, ya..walaupun awalnya aku menganggap hal ini terlalu
berlebihan. Namun saat ini aku malah merinding mendengar teman-teman
mengucapkan janji itu dengan serempak. Aku hanya bisa diam, bingung. Ada yang
aneh, tapi entah apa.
****
Air yang banyak itu terus
mengguyur bumi. Membuat bumi basah, pohon-pohon itu basah dan tanah itu juga
basah. Menahanku untuk pergi ke luar rumah. Liburan panjang seperti ini, hanya
aku habiskan dengan terus di rumah. Rasa bosan pun perlahan memenuhi kepalaku.
Serba salah jika melakukan ini dan itu. Huhhh...apa ya kegiatan yang bisa
menjadi penangkal bosan?
Wulan. Aha! Ulan.., dia
pasti juga sedang liburan di rumah. Teman masa kecilku yang juga tetanggaku.
Dia kan punya sanggar, pasti banyak orang disana, banyak anak kecil yang
menari-nari lucu di sana. Pasti bisa sedikit menghilangkan bosan.
Tapi sayangnya, harapanku
untuk mengusir bosan gagal total. Tak ada anak-anak, tak ada yang menari, dan
tak ada yang bisa kulihat sesampainya aku di sanggar. Tapi tunggu, ternyata ada
ulan di pojok sana. Ia mengangkat satu kakinya, seperti sedang pemanasan.
“hoi...lagi apa bu, ujan-ujan
gini?” ternyata aku mengagetkannya.
“dasar riri..., dari
kecil kerjaannya bikin kaget gue melulu!”
“hehehe, seru banget
kayaknya. Ini baju apa? Heboh banget?” aku penasaran dengan pakaian yang sedang
dikenaknnya.
“sembarangan! Ini baju
adat tau! Gue lagi belajar tarian baru. Menarik banget.” Ulan terlihat antusias
jika sudah membicarakan tari menari.
“lu buat sendiri
tariannya?”
“gak, ini tarian khas
Banten. Tapi jarang orang yang tau, dan gue yakin lu salah satu orang yang gak
tau. Iya kan???” pertanyaan ulan seakan menghakimi.
“enak aja lu.., gue bukan
gak tau, tapi bisa jadi lupa.”aku gengsi mengakui ketidak tahuanku ini.
“yah...sama aja. Lu kan
gak pernah mau tau soal banten. Orang mana sih lu? tinggal di Banten, makan
tidur juga di Banten. Tapi gak tau apa-apa soal Banten”. Buset! Lama gak ketemu
si Ulan, dia sudah punya banyak kosa kata yang sukses menyindirku.
“Kan gue tinggal di
Tangerang lan, beda lah sama Banten”. Aku membela diri.
“Ya sama lah riri...,
Tangerang itu ya bagian dari Banten”.
“Tau ah, gue kan kesini
mau main. Malah diceramahin. Ya udah, gue pulang”. Aku merasa kesal.
“iya” ulan menjawabnya
ketus.
****
Malamnya, aku malah
teringat dengan kata-kata ulan tadi siang. Ditambahkan dengan perkataan bu
dosen dan janji pak dosen. Aku merasa tersingung, namun juga resah. Dalam
pikiranku saat ini adalah, apa benar aku ini gak punya jati diri? Aku orang
Tangerang? ya memang. Aku harus mengenal tempat ini lebih jauh? ya memang. Aku
tidak pernah mau belajar budaya tempatku ini? ya memang. Jadi benar aku gak
punya jati diri? Ya... mungkin. Ahhhhh....semuanya jadi begini. Jadi susah
tidur begini.
Pagipun datang, tanpa aku
bisa tidur dengan tenang. Heh...kenapa aku ini? Ini pasti gara-gara aku salah
pilih tempat tujuan menghilangkan bosan, eh malah sampai sekarang jadi
kepikiran.
Tuk tak, tuk tuk, tuk tak, tuk tuk..... bunyi-bunyian itu mengganggu pagiku
yang suram ini. Aku mengintip keluar dari jendela, penasaran suara apa itu.
Ternyata sumbernya dari rumah ulan, ada apa ya? Jadi makin penasaran. Tapi aku
kan lagi marahan sama dia. Coba liat ah, daripada penasaran.
Ternyata suara itu adalah
suara dari lesung padi. Sejak kapan ulan masih menumbuk padi? Siapa ibu-ibu tua
itu?aku makin kepo. Masa bodo dengan
ulan, aku mau lihat ke dalam ah...
****
Wah...mereka bukan ibu
tua biasa, mereka menari bersama dentuman dari lesung padi itu. Indah sekali.
Aku sampai tersenyum-senyum mengikuti semangat ibu-ibu itu.
“seru kan?” ulan
membuyarkan konsentrasiku yang sedang mencoba memperhatikan ketukan dari lesung
padi tersebut.
“Iya, seru.”
“Gak kalah kan sama
tarian artis-artis luar negeri itu?” nada ulan kembali menyindir.
“Iya, lebih gimana gitu.
Bikin merinding”
“Mau coba gak?” ulan
menawariku.
“ha?” aku kaget dengan
penawarannya.
“udah...gak usah gengsi.
Masih tetep keren kog walaupun tarian daerah”. Ulan menarik tanganku. Aku hanya
bisa mengikutinya, mendekati ibu-ibu itu yang sedang asik membuat alunan irama
yang membuat mereka semakin bersemangat.
“Nih pake,” ulan
memberiku sehelai selendang berwarna ungu. “diikat di pinggang ya!” aku
langsung mengikat selendang itu di pinggangku. Ulan sudah bersiap dengan gerakan
tarinya.
“Ikutin gue aja. Kita kan
dulu juara nari di tujuh belas agustusan. Sekarang juga pasti kita bisa
kompak”. Ulan mengedipkan sebelah matanya. Aku Cuma bisa manyun, jadi teringat
masa kecil yang suram dulu.
Tuk tak, tuk tuk, tuk tak, tuk tuk, tuk tuk....
Suara lesung kembali beraturan.
Terdengar sebuah dentuman yang semakin cepat namun selaras dengan gerak kaki
ulan. Akupun segera mengikuti, tak mau kalah dengannya. Dan kami berdua pun hanyut
dalam tarian lesung itu.
Aku merasa senang. Sangat terhibur
karena tarian ini, ditambah dengan teriakan heboh dari ibu-ibu itu. Entah
mereka meneriakkan apa, mereka berbicara dengan bahasa sunda. Aku sama sekali
tak mengerti.
“Asik ya”Tak sadar kata itu keluar
dari mulutku, mengakui bahwa tarian ini mengasyikkan padahal tarian ini
kuanggap aneh.
“iya dong namanya tarian Bendrong
Lesung, tarian begini nih yang selalu buat gue semangat kalau udah di sanggar”
jawab ulan.
“kenapa sih lu gak kuliah aja lan,
sayang kan, lu tuh padahal pinter tau”
“Lu kuliah karena mau jadi lebih baik kan? belajar hal yang belum
dipelajari. Gue juga sama, gue mau jadi lebih baik. Cuma caranya beda sama lu,
gue memperkaya diri dengan tarian lewat sanggar ini. Gue menari, dan gue
bahagia. Yang paling penting, gue merasa jadi lebih baik”. Lalu ulan tersenyum.
Walaupun ia temanku, namun ia juga selalu jadi saingan. Sayangnya, kali ini aku
mengaku kalah darinya, ia sudah maju beberapa langkah lebih jauh dariku.
“Eh, gue masih kurang satu orang lagi
buat tarian ini, sanggar kita mau pentas nanti di ulang Tahun Kota Tangerang.
Kota lu juga kan? hehehe, mau ikut gak?” ia berbiacara sambil membuka simpul
ikatan selendang.
“emang boleh?” aku ragu.
“boleh lah. Itung-itung pengisi
liburan lu kan ri”.ulan terseyum padaku, seakan dia tahu kalau aku sudah bosan
di rumah terus selama liburan kemarin.
“Ok” aku mengiyakan.
****
Setelah pagi itu, aku
ulan dan kita semua siap untuk tampil di berbagai acara untuk membawakan tarian
bendrong lesung khas Banten ini. Di setiap gerakan tariannya, aku percaya semua
gerakan itu punya makna. Sebuah warisan yang tak bisa dinilai harganya.
Anak muda seperti aku ini sudah sepatutnya
mewarisi harta dari budaya, bukan sibuk untuk berkiblat pada budaya negara
orang. Kata-kata seperti itu sudah biasa terdengar, namun terasa berbeda jika
aku yang melakukannya sendiri. Ternyata tahu secuplik mengenai budaya daerah
sendiri merupakan kebanggaan untukku. Aku bangga bisa membawakan tarian ini,
memperkenalkannya pada setiap orang yang melihatnya. Membuat budayaku terlihat
indah pada setiap orang yang melihatnya.
Ah, aku jadi teringat
janji yang diucapkan keras-keras waktu itu. Kalau dipikir aku sudah
menepatinya, walaupun bukan keseluruhan Indonesia yang kubuat indah, namun
budaya daerahku ini adalah bagian dari Indonesia. Manusia itu senang melakukan
sesuatunya secara bertahap bukan? Aku
juga akan bertahap membuat Indonesia bangga mempunyai aku sebagai anak bangsanya. Tentu, aku akan memulai untuk
lebih mengenal budaya tempatku dahulu. Baru aku bisa bicara macam-macam budaya
Indonesia yang kaya itu.
Bu dosen, sekarang aku sudah
punya jati diri. Aku orang Tangerang yang merupakan bagian dari provinsi
banten. Tarian ini saksinya bu, aku mencoba mempelajarinya sebagai wujud aku
memilikinya.
Tuk tak, tuk tuk, tuk tak, tuk tuk, tuk tuk....
Alunan suara itu semakin
cepat mengiringi gerakan jari-jemari kami. Suara lesung padi itu bercampur
dengan Riuh penonton bertepuk tangan. Ini tempatku, dimana aku tumbuh menjadi
dewasa, besar dan mulai mengerti akan arti dari belajar mencintai.
Ya...mencintai budayaku sendiri. Sebuah garis besar yang bisa kusimpulkan
adalah “aku mencintai kau, budayaku, karena Indonesiaku”.
Langganan:
Postingan (Atom)


